PROFIL MUSEUM NEGERI BENGKULU

1.1 Sejarah Museum

Tahukah kamu apa itu museum?

Museum bukanlah tempat barang antik, kuno, dan menyeramkan sehingga tidak dapat dinikmati ataupun tanpa manfaat. Sebaliknya, museum adalah lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Museum berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat untuk tujuan studi, penelitian, dan kesenangan atau hiburan (rekreasi budaya)

Kata museum berasal dari mouseion, yang berarti kuil untuk sembilan Dewi Muses, anak-anak dewa Zeus yang melambangkan ilmu dan kesenian. Kata museum mulai banyak digunakan pada masa Renaissance, sekitar abad ke-16 M dan ke-17 M. Kata museum itu, diartikan dengan ciri ilmiah, selain bersenang-senang. Ciri inilah yang senantiasa tetap menjiwai makna museum dan memperluas fungsi museum sebagai pendidikan hingga saat ini. Karena museum merupakan salah satu media pendidikan dan sumber belajar dalam rangka ikut berpartisipasi aktif untuk pencapaian tujuan belajar baik dari sisi kognitif (pengetahuan), afektif (nilai dan sikap), serta psikomotorik (keterampilan). Di museum pengunjung dapat memperdalam pengetahuan budaya dan warisan bangsanya sendiri, yang pada gilirannya dapat memperteguh jati diri budaya mereka.

Menurut Intenasional Council of Museum (ICOM) : dalam Pedoman Museum Indonesia,2008. museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan rekreasi.

1.2 Jenis Museum

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonsia Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum pasal 4 ayat (4) disebutkan, Museum yang didirikan dapat berjenis Museum Umum dan Museum Khusus. Museum umum adalah museum yang menginformasikan tentang berbagai cabang seni, peristiwa, disiplin ilmu dan teknologi yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan/atau lingkungannya. Misalnya antara lain museum nasional, museum Provinsi, dan museum kabupaten atau kota.

Museum khusus adalah museum yang menginformasikan tentang 1 (satu) peristiwa, 1 (satu) riwayat hidup seseorang, 1 (satu) cabang seni, 1 (satu) cabang ilmu, atau 1 (satu) cabang teknologi yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan/atau lingkungannya. Misalnya Museum Kebangkitan Nasional, Museum Panglima Besar Soedirman Yokyakarta, Museum Neka Bali, Museum Basuki Abdullah Jakarta, Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah, Museum Geologi Bandung, dan Museum Kepresidenan di Istana Presiden Bogor.

1.3 Tenaga Teknis dan Administrasi Museum

Tenaga teknis di museum terdiri dari

  1. Registrator yaitu petugas teknis yang melakukan kegiatan pencatatan dan pendokumentasian koleksi,
  2. Kurator yaitu petugas teknis yang karena kompetensi keahliannya bertanggungjawab dalam pengelolaan koleksi,
  3. Konservator yaitu petugas teknis yang melakukan kegiatan pemeliharaan dan perawatan koleksi,
  4. Preparator yaitu petugas teknis yang melakukan kegiatan perancangan dan penataan di museum,
  5. Edukator yaitu petugas teknis yang melakukan kegiatan edukasi dan penyampaian informasi koleksi,
  6. Hubungan masyarakat dan pemasaran yaitu petugas teknis melakukan kegiatan komunikasi dan pemasaran program-program museum

Tenaga administrasi museum adalah tenaga yang melakukan pekerjaan

  1. Ketatausahaan
  2. Kepegawaian
  3. Keuangan
  4. Keamanan; dan/atau
  5. Kerumahtanggan

1.4 Museum Negeri Bengkulu

Museum Negeri Bengkulu didirikan pada tanggal 1 April 1978, mulai berfungsi sebagai museum pada tanggal 3 Mei 1980, menempati lokasi sementara di belakang Benteng Marlborough. Koleksi awal berjumlah 51 Koleksi dengan rincian: 43 koleksi etnografi, 6 koleksi keramik, dan 2 koleksi replika.

Pada tanggal 3 Januari 1983, museum pindah ke lokasi baru di Jalan Pembangunan No,8 Padang Harapan Bengkulu. Berdasarkan SK Mendikbud RI Nomor 0754/0/1987, ditingkatkan statusnya menjadi Museum Negeri Provinsi dengan klasifikasi museum umum tipe C, sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Permuseuman Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Peresmian dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 1988 oleh Direktur Jendral Kebudayaan Drs. G.B.P.H.Poeger, dengan nama Museum Negeri Bengkulu

Setelah otonomi daerah tahun 2001, berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bengkulu Nomor 14 Tahun 2001 tentang Organisasi Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Bengkulu, Museum Negeri Bengkulu menjadi UPTD Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Bengkulu dengan nama Museum Bengkulu. Saat ini dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007, dan ditetapkannya Perda Nomor 7 Tahun 2008, Museum Bengkulu menjadi UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu. Pada Tahun 2016 terjadi perubahan struktur organiasai dan perangkat daerah. Mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Bengkulu Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, maka Museum Negeri Provinsi Bengkulu berada dibawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu.

Sebagai lembaga yang mengelola sejarah dan budaya dalam pelaksanaan tugasnya museum Bengkulu merumuskan visi : Melestarikan dan menginformasi sejarah budaya yang mencerahkan  pengembangan peradapan berbasis kearifan lokal. Untuk mencapai visi tersebut, disusunlah misi museum, antara lain:

  1. Melestarikan dan mengembangkan warisan sejarah budaya daerah yang mencerahkan sikap berbudaya.
  2. Menjadi pusat studi dan rekreasi sejarah budaya yang informatif dan inspiratif.
  3. Meningkatkan penyajian informasi koleksi yang mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan berbudaya yang kreatif, inovatif, apresiatif dan imajinatif.
  4. Meningkatkan sarana prasarana museum dan kualitas pemeliharaan, penyimpanan dan pendokumentasian koleksi berbasis IT.
  5. Mengembangkan sikap profesional SDM museum dan meningkatkan mutu pelayanan yang proporsional.

Sesuai visi dan misinya, museum Bengkulu diharapkan dapat merangkul masyarakat untuk secara bersama mengenal dan memahami budaya daerah bukan saja dari segi tangibel melainkan juga sisi intangibel yang sarat akan kearifan lokal.   Kearifan lokal  mengajarkan pada kita kesimbangan interaksi antar individu dalam masyarakat serta dengan lingkungan alam. Persoalan kita sekarang adalah bagaimana kita memahami budaya dan karifan lokal sebagai satu “kekayaan intelektual” kolektif yang kita warisi secara tradisi.   Museum Bengkulu mengemasnya menjadi sebuah motto ”kenali budayamu temukan jati dirimu” yang mengajak  kita semua menemukan identitas dan bangga akan kebudayaan sendiri. 

Di Museum Negeri Bengkulu terdapat berbagai macam koleksi. Koleksi Museum Negeri Bengkulu adalah benda sejarah budaya dari sembilan sub etnis penduduk asli Bengkulu dan benda budaya sejarah lain yang berhubungan dengan perkembangan Bengkulu sebagai satu komunitas budaya, serta beberapa koleksi replika dan miniatur. Sampai tahun 2019, koleksi yang terdapat di Museum Negeri Bengkulu mencapai 6.150 koleksi yang telah dikumpulkan sejak tahun 1978,  terdiri dari delapan jenis koleksi dengan rincian

  1. Koleksi biologika terdiri dari kerangka manusia, hewan ataupun tumbuh-tumbuhan yang diawetkan termasuk fosil, yang digunakan untuk penelitian ilmu biologi. Koleksi biologi museum negeri Bengkulu terdiri dari opsetan binatang mati yang banyak terdapat di Bengkulu, seperti beruang, ular, penyu dan biota laut. Juga terdapat koleksi binatang dari luar Bengkulu. Jumlah koleksi 37 buah
  2. Koleksi Etnografi adalah benda budaya baik yang masih dipakai dan diproduksi maupun yang tidak terpakai lagi seperti, benda upacara, sejata, anyaman dan tenun tradisional, peralatan berburu, pertanian, nelayan, perlengkapan kesenian serta perlengkapan hidup lainnya. Koleksi ini menggambarkan perkembangan budaya, pengetahuan serta religi dari masyarakat pendukungnya.  Koleksi ini pada umumnya mengandung nilai-nilai karena sebagian juga menjadi simbol dari kelompok tertentu sehingga benda ini dianggap sebagai bagian dari tatanan kehidupan. Jumlah koleksi 2.764 buah
  3. Koleksi Arkeologika adalah benda budaya masa lampau sejak masa prasejarah sampai masuknya pengaruh barat (kolonial) serta koleksi lainnya yang berasal dari hasil penggalian arkeologi. Koleksi ini antara lain, kapak batu, nekara, tempayan kubur dan bekal kubur masa megalit, dan arca masa hindu buda.  Koleksi kapak batu museum Bengkulu berasal dari masa neolitikum yang umumnya dipakai sebagai kapak upacara.  Kapak ini sudah diupam (diasah) halus dengan bentuk persegi panjang atau trapesium. Temuan arkeologi di Bengkulu tersebar hampir diseluruh wilayah Provinsi Bengkulu, situs megalit yang terkenal adalah situs Padang Sepan Bengkulu Utara. Jumlah koleksi 90 buah
  4. Koleksi Historika adalah benda budaya yang pernah digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan suatu peristiwa sejarah yang berkaitan organi kemasyarakatan seperti negara, kelompok, tokoh sejarak dan lain-lain berasal dari masa kolonial sampai sekarang. Benda-benda ini akan menjadi objek penelitian ilmu sejarah seperti mesin cetak yang pernah digunakan oleh bung Karno waktu pengasingan di Bengkulu dan juga dipakai untuk mencetak uang PMR atau ORI (uang merah) pada masa perang kolonial. Jumlah koleksi 8 buah
  5. Koleksi Numismatika dan Heraldika. Koleksi Numismatika adalah semua jenis mata uang atau alat tukar yang sah, sedangkan koleksi Heraldika yaitu semua tanda jasa, lambang dan tanda pangkat resmi termasuk stempel dan cap yang pernah dipakai pada masa lalu. Koleksi numismatika terdiri dari mata uang logam dan kertas seperti uang jagung, uang logam (koin cina), uang logam dan kertas kolonial, masa kemerdekaan dan lain-lain.  Sedangkan koleksi heraldik antara lain piagam dan lencana Penobatan Sardana sebagai Depati Dusun Talang Tinggi (Bencoelen) dengan Gelar Depati Intan, berdasarkan zijn besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda nomor 36 tanggal 26 Agustus 1875 yang ditemukan di Desa Napalan, Kabupaten Seluma 13 September 1999. Jumlah koleksi 1.187 buah

  1. Koleksi Keramologika adalah benda budaya dalam bentuk wadah yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Keramik biasanya dibakar sampai suhu diatas 1000ᵒC sementara gerabah dibakar dengan suhu sekitar 500ᵒ  Keramik koleksi museum Bengkulu berasal dari Cina, Jepang, Thailand dan Eropa,   Keramik lokal umumnya adalah gerabah seperti periuk tanah dan perlengkapan dapur lainnya.  Penemuan keramik asing di Bengkulu membuktikan bahwa Bengkulu telah terjalin kontak dagang dengan dunia luar dan tidak tertutup juga kemungkinan terjadi kontak budaya. Jumlah koleksi 1.901 buah
  2. Koleksi Filologika adalah koleksi naskah kuno yang ditulis tangan meguraikan tentang sesuatu hal atau peristiwa yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat dan alam lingkungan termasuk legenda dan lain sebagainya. Koleksi filologika museum negeri Bengkulu adalah naskah bertuliskan aksara ka-ga-nga yang dulu disebut tulisan ulu (yang dahulu) atau rencong, sedangkan naskahnya disebut sastera ulu. Naskah ini sekarang lebih populer dengan nama naskah ka-ga-nga.   Isi naskah antara lain : doa/jampi, kisah/kejadian, adat dan hukum adat, pengobatan tradisional, aturan bertani, perambak bujang gadis, juga cerita rakyat.  Aksara ka-ga-nga  berkembang antara abad 10-12 yang merupakan turunan dari aksara Palawa. Jumlah koleksi 148 buah
  3. Koleksi Teknologika adalah setiap benda atau kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi tradisional sampai sekarang. Koleksi ini bisa berbentuk asli seperti alat tenun, transportasi dan lain sebagainya termasuk koleksi miniatur kincir air.  Pada umuumnya koleksi teknologika masyarakat tradisional Bengkulu adalah bukan mesin seperti alat tenun ATBM, kincir angin dan lain-lain. Jumlah koleksi 15 buah

Museum Negeri Bengkulu berupaya memberikan gambaran khasana keanekaragaman budaya melalui pameran tetap dengan tema “warisan sejarah, budaya, dan alam bengkulu dalam hubungannya dengan budaya regional dan nasional”. Melalui tema ini, diharapkan masyarakat Bengkulu, khususnya generasi muda dapat memahami hubungan antar budaya dan memposisikan diri sebagai bagian dari budaya regional dan nasional.