Pameran Keliling

Pameran Keliling

Pameran merupakan cara yang efektif bagi museum untuk berkomunikasi dengan pengunjung. Setiap penyelenggara pameran, selalu diawali dengan sebuah gagasan besar tentang apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas. Gagasan kemudian diwujudkan dengan menyajikan berbagai koleksi yang dilengkapi dengan teks, gambar, foto, ilustrasi dan pendukung lainnya. Perencanaan pameran merupakan faktor penting untuk menentukan strategi kerja dan tahapan pelaksanaan sehingga evaluasi, serta dibutuhkan keterlibatan banyak pihak dan keahlian dan keterampilan khusus bagi yang terlibat di dalamnya.

Pameran juga bermakna untuk menyampaikan misi museum kepada pengunjung. Pemilihan koleksi, tema-tema pameran yang diangkat, program pendukung serta informasi  yang disampaikan merupakan gambaran keunikan dan kekhasan museum atau tempat diselenggarakan pameran.

Tanggal 3-5 November 2021, Museum Negeri Bengkulu akan melakukan pameran keliling di kabupaten Seluma dengan tema pameran “Lestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dan Sejarah Melalui Museum, Menuju Bengkulu Berbudaya”. Pameran keliling, ialah pameran yang diselenggarakan di luar museum pemilik koleksi dalam jangka waktu tertentu, dengan tema khusus, dan bertujuan untuk memperkenalkan suatu khasanah budaya daerah yang satu kepada daerah lainnya, sehingga memperoleh hubungan antar suku bangsa atau budaya.

Persiapan yang dilakukan sejak awal Oktober antara lain rapat-rapat teknis, pemilihan koleksi yang akan dipamerkan, perawatan koleksi, pengecekan sarana dan prasarana pameran (vitrin dan lampu), serta desain backdrop dan sepanduk. Pada tanggal 15 Oktober 2021, tim Koleksi Konservasi dan Preparasi melakukan perawatan koleksi-koleksi yang akan dipamerkan di Kabupaten Seluma.

Hari Museum Nasional

Hari Museum Nasional

Hari Museum Nasional diperingati setiap 12 Oktober. Hari Museum Nasional 2021 jatuh pada Selasa (12/10/2021). Sejarah Hari Museum Nasional berawal dari Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) yang pertama di Yogyakarta pada tanggal 12-14 Oktober 1962 dan menghasilkan 10 resolusi penting bagi permuseuman. Selanjutnya, penetapan tanggal hari museum berdasarkan pertemuan MMI di kota Malang, Jawa Timur pada tanggal 26-28 Mei 2015.

Pertemuan tersebut dihadiri 250 pengelola Museum di Indonesia. Pertemuan itu juga membahas isu-isu dan paradigma baru dalam dunia permuseuman untuk kemajuan museum. Menurut situs web Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hari Museum Nasional dibuat agar pengelola museum bisa memberikan pelayanan terbaik dan inovasi bagi kemajuan museum. Museum juga diharapkan menampilkan koleksi-koleksi terbainya untuk menarik pengunjung.

Sejarah Hari Museum Nasional 12 Oktober Sebelum kongres MMI, Indonesia tidak memiliki tanggal khusus untuk perayaan hari museum. Kemudian tersebutlah pencanangan Hari Museum Indonesia yang berawal dari kegiatan diskusi di Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, pada April 2015.

Pada kegiatan diskusi tersebut, diundang sejumlah narasumber, seperti kepala museum, pemerhati kebudayaan, pemerhati museum, komunitas, dosen, dan asosiasi museum. Masing-masing narasumber mengemukakan tanggal yang dianggap bersejarah bagi dunia permuseuman Indonesia. Tanggal 12 Oktober dipilih karena bertepatan dengan Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) yang pertama di Yogyakarta pada tahun 1962. Dunia permuseuman di Indonesia pun akhirnya memiliki tanggal sendiri dalam perayaan hari museum yaitu tanggal 12 Oktober.

Peristiwa MMI dianggap sebagai peristiwa penting dalam dunia permuseuman Indonesia. Setelah 17 tahun Indonesia merdeka, perhatian terhadap perkembangan permuseuman Indonesia mulai menggeliat. Salah satu bentuk perhatian itu adalah datangnya gagasan dari sejumlah tokoh, pendiri, dan pemerhati museum untuk menyelenggarakan Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) yang pertama pad 12-14 Oktober 1962 di Yogyakarta. MMI pertama dihadiri sekitar 40 orang, yang terdiri dari unsur pimpinan dan tokoh museum, pemerhati, dan pecinta museum. Acara tersebut juga dihadiri oleh Drs. Moh. Amir Sutaarga yang dikenal sebagai ‘Bapak Permuseuman Indonesia’.

Dari kegiatan tersebut telah dihasilkan sejumlah resolusi penting yang menjadi tonggak sejarah museum di Indonesia. Sepuluh resolusi MMI pertama itu menjadi landasan kerja pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan museum di Indonesia. Sepuluh resolusi ini dinilai sangat kuat historisnya bagi kemajuan permuseuman di Indonesia. Berikut 10 resolusi dalam Musyawarah Museum Indonesia yang pertama:

  1. Resolusi tentang perlunya undang-undang tentang permuseuman.
  2. Resolusi pembentukan Badan Musyawarah Museum Indonesia.
  3. Resolusi pembentukan National Committee of ICOM.
  4. Resolusi mengenai desakan agar terutama Pemerintah meningkatkan pemberian bantuan kepada museum-museum yang telah ada.
  5. Resolusi penambahan jumlah museum.
  6. Resolusi agar diadakan Musyawarah Museum Seluruh Indonesia II pada tahun 1965 di Jakarta.
  7. Resolusi tentang pembinaan dan pendidikan macam-macam tenaga museum, melalui kursus-kursus aplikasi, upgrading-courses dan menyokong pikiran pendirian suatu akademi dinas di bidang museologi.
  8. Resolusi agar museologi masuk ke dalam kurikulum universitas.
  9. Resolusi agar museum secara aktif berfungsi untuk kepentingan sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan agama.
  10. Resolusi agar museum dijadikan alat penggalang persahabatan bangsa-bangsa serta membantu perkembangan kebudayaan dunia.

Sepuluh resolusi tersebut menunjukkan peristiwa MMI memiliki nilai sejarah yang penting bagi dunia permuseuman Indonesia.

Sumber:https://tirto.id/hari-museum-nasional-12-oktober-2021-sejarah-dan-tujuan-peringatan-gkh6

Penulis: Dipna Videlia Putsanra

Penataan Koleksi Keramik Museum Negeri Bengkulu

Penataan Koleksi Keramik Museum Negeri Bengkulu

Koleksi museum merupakan aset bangsa yang menjadi daya tarik bagi masyarakat dalam proses pembelajaran nilai warisan budaya. Oleh karena itu koleksi perlu mendapat perlakuan yang terarah dan terkendali sesuai dengan prinsip-prinsip pelestarian terhadap warisan budaya, baik yang berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible).

Pada mulanya aktivitas koleksi di museum hanya dilakukan secara internal, yaitu disimpan dirawat, diteliti dan disajikan melalui pameran, maupun penerbitan dalam bentuk katalog maupun buku yang sepenuhnya dilakukan oleh pihak museum. Sejalan dengan peningkatan jumlah koleksi museum untuk berbagai kegiatan, maka dibutuhkan pengelolaan koleksi yang ditangani secara khusus, yaitu pengelolaan secara administratif, teknik, dan akademik.

Ketika benda telah menjadi koleksi Museum Negeri Bengkulu, maka tahap pertama yang dilakukan dalam penanganan koleksi adalah pencatatan. Kegiatan ini disebut sebagai tahap kegiatan registrasi, yaitu pencatatan suatu benda ke dalam buku induk registrasi dan diberi label serta kartu registrasi sebagai penetapan secara resmi menjadi koleksi Museum Negeri Bengkulu.

Setelah kegiatan registrasi selesai, maka koleksi diserahkan kepada petugas koleksi. Selanjutnya, data dari buku registrasi koleksi sebagian besar dipindahkan ke dalam buku inventaris koleksi yang dilengkapi dengan deskripsi benda, kegiatan pelaksanaan pengerjaannya antara lain:

  • Penomoran, tujuan dari pemberian nomor registrasi ataupun inventarisasi adalah untuk mengamankan dan mempermudah dalam pengelolaan koleksi. Oleh karena itu diperlukan sebuah sistem penomoran yang mudah dan sesuai dengan kebutuhan. Penomoran inventarsisasi koleksi didasarkan pada jenis klasifikasi dan jumlah koleksi dalam satu jenis klasifikasi.
  • Klasifikasi, koleksi yang disimpan di museum mempunyai beragam bentuk dan fungsi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan klasifikasi koleksi berdasarkan kriteria tertentu, yaitu menurut disiplin ilmu, sub disiplin ilmu dan/atau yang bersifat konvensi, berdasarkan bahan, asal daerah, kronologi dan sebagainya.

Tujuan klasifikasi adalah menciptakan keseragaman dan kelancaran dalam pengelolaan koleksi, sehingga pemanfaatan koleksi dapat dilakukan secara optimal untuk kepentingan pendidikan dan rekreasi.

Pada tahun 2021, Museum Negeri Bengkulu melalui seksi Koleksi Konservasi dan Preparasi melakukan penataan koleksi keramik berdasarkan kategori dan ciri fisik kolekis. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah klasifikasi jenis dan kategori kolekis keramik. Langkah awal ialah petugas melakukan pengelompokan jenis koleksi keramik dan menyusun di rak penyimpanan pada storage. Setelah koleksi keramik tersusun, maka petugas akan melakukan reinventarisasi koleksi (penomoran baru) keramik. Penomoran ini akan memberikan identitas baru pada koleksi keramik, sesuai dengan kelompok dan kategori fisik keramik.

Persiapan LCC Museum Negeri Bengkulu Tahun 2021

Persiapan LCC Museum Negeri Bengkulu Tahun 2021

LCCM adalah Lomba Cerdas Cermat Museum yang dilaksanakan secara tahunan sejak tahun 2015 oleh Museum Nasional Indonesia (MNI). LCCM merupakan lomba pelajar SMP/MTs tingkat nasional yang akan diikuti oleh pelajar dari daerah-daerah termasuk melibatkan provinsi Bengkulu.

Adapun  maksud dan tujuan LCCM ini yaitu:

  • Meningkatkan Apresiasi masyarakat (pelajar) terhadap museum
  • Membangkitkan minat generasi muda & masyarakat mengunjungi museum
  • Menyebarlaskan informasi kebudayaan dan sejarah bangsa  kapada generasi muda
  • Menumbuhkan apresiasi siswa terhadap kebudayaan Indonesia .
  • Mengenalkan tokoh pahlawan agar dapat meneladani  patriotisme para pahlawan.
  • Menciptakan rasa bangga dan  cinta terhadap tanah air

Materi dari lomba LCCM ini diantaranya adalah Kebudayaan Indonesia 40%, Sejarah Perjuangan Bangsa            30%, dan Permuseuman 30%. Pada tahun 2021, MNB (Museum Negeri Bengkulu) melatih pelajar SMPN 1 kota Bengkulu yang akan menjadi perwakilan dari Provinsi Bengkulu dalam menghadapi LCC Museum. sejak bulan Agustus 2021 MNB mulai melakukan pendampingan dan pelatihan intensif kepada pelajar SMPN 1 setiap minggu, pelajar dan pembimbing secara bergantian berkunjung ke museum untuk belajar, diskusi, dan membedah soal-soal LCC Museum, adakalanya pembimbing dari museum juga berkunjung dan membimbing di SMPN 1 kota Bengkulu.

Sebagai informasi pada tahun 2017-2018 pelajar dari provinsi Bengkulu telah mengikuti LCCM dan mendapatkan juara ke III, pelaksanaan LCCM tahun 2021 yang masih dalam suasana pandemi mengakibatkan pelaksanaan menjalankan kegiatan ini secara daring.

Perawatan koleksi kain di Museum Negeri Bengkulu

Perawatan koleksi kain di Museum Negeri Bengkulu

Kain merupakan salah satu jenis koleksi etnografi yang di miliki oleh Museum Negeri Bengkulu. Koleksi kain yang ada di Museum Negeri Bengkulu berasal dari seluruh kabupaten kota yang ada di provinsi Bengkulu. Sesuai dengan tupoksinya, seksi Koleksi, Konservasi dan Preparasi Museum Negeri Bengkulu melakukan konservasi dan perawatan koleksi kain.

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk melindungi koleksi dari ancaman yang disebabkan oleh serangga, perubahan suhu/kelembaban, debu, yang dapat menyebabkan kerusakan koleksi kain.

Sebelumnya kita telah mengetahui sekilas tentang kegiatan yang ada di Museum Negeri Benkulu, kali ini kita akan membahas proses perawatan kain dimulai dari penataan kain berdasarkan no.invent untuk mengetahui bagaimana kondisi dari koleksi tekstil itu apakah mengalami kerusakan atau hanya perlu perawatan saja. Ada beberapa penyebab dalam kerusakan tekstil yaitu cahaya (sinar tampak dan sinar ultraviolet), temperatur, serta kelembapan, hama, dan gaya gravitasi bumi. Adapun peralatan yang digunakan untuk melakukan perawatan tekstil yaitu:

  1. Sarung tangan
  2. Masker
  3. Pipa paralon untuk menggulung koleksi
  4. Meja dilapisi busa dan plastik
  5. Kertas bebas asam
  6. Vacuum cleaner
  7. Jaring halus
  8. Kapas
  9. Silica gel
  10. Alkohol 70% yang dicampur dengan Aquades

Berikut adalah teknik pembersihan yang dilakukan Museum Negeri Bengkulu:

  1. Identifikasi kondisi koleksi kain
  2. Koleksi tekstil yang akan di preparasi di hamparkan di atas meja yang telah dilapisi busa dan plastik
  3. Koleksi di lapis jaring halus kemudian di vakum
  4. Pembersihan dilakukan satu arah berdasarkan arah benang (pangan atau langsi)
  5. Koleksi di bersihkan menggunakan kapas yang telah dicelupkan alkohol yang telah dicampur aquades kemudian kapas sampai kering.
  6. Pada bagian yang dibersihkan ditekan dengan kapas secara ringan ke permukaan koleksi
  7. Tekstil di jemur ditempat yang tertutup supaya bebas dari debu dan berbagai gangguan luar
  8. Penjemuran tekstil dilakukan sebentar sampai dirasakan bahan telah kering
  9. Koleksi tekstil yang telah selesai di jemur di bungkus lagi menggunakan penyangga (pipa paralon) dan kertas bebas asam
  10. Koleksi yang sudah selesai di rawat kemudian di data kembali selanjutnya di masukkan ke dalam lemari yang telah diisi silica gel.

Untuk info lanjut sahabat museum bisa berkunjung ke Museum Negeri Bengkulu.

#museumdihatiku

#museumnegeribengkulu

#dikbudprovbengkulu

#ayokemuseum

#wanderfulbengkulu

Pameran Bersama Sejarah Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan 1945-1949

Pembukaan Pameran Bersama Sejarah Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan 1945-1949 dan Lomba Tari Kreasi Tradisional

Museum Subkoss adalah museum perjuangan masyarakat Sumatera Selatan tempatnya di kota Lubuklinggau yang bertemakan perjuangan masyarakat Sumatera Selatan melawan penjajah pada tahun 1945-1949. Pada hari ini Pembukaan Pameran Bersama Sejarah Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan 1945-1949 dan Lomba Tari Kreasi Tradisional yang dihadiri lansung oleh perwakilan Gubernur Sumatera Selatan, Walikota Lubuklinggau, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa dan Kepala Museum Negeri Bengkulu serta para Pejabat Sumatera Selatan. Adapun rangkaian acaranya yaitu:Tambahkan Teks Tajuk Anda Di Sini

  1. Selasa, 07 September 2021, Pembukaan Pameran Bersama dan Lomba Tari Kreasi Tradisional
  2. Rabu, 08 September 2021, Lomba Tari Kreasi Tradisional
  3. Kamis, 09 September 2021, Lomba Permainan Congklak
  4. Jum’at, 10 September 2021, Lomba Permainan Enggrang Batok
  5. Sabtu, 11 September 2021, Lomba Permainan Yeye dan Cengkleng
  6. Minggu,12 September 2021, Lomba Permainan Balap Ban
  7. Senin, 13 September 2021, Penutupan Pameran Bersama dan Pembagian Hadiah Lomba

#ayongelongkamuseumsubkoss
#museumakganipalembang
#museumnegeribengkulu
#museumnegerisumsel
#disbudparsumsel
#dikbudprovbkl

Ngobrol Pagi Khas Bengkulu di BETV

Operasional Museum Saat Pandemi

Senin 30 Agustus 2021 kepala UPTD Museum Negeri Bengkulu bapak Didi Hartanto, S.E dan Kepala seksi Koleksi Konservasi dan Preparasi Museum Negeri Bengkulu Heri Sukoco, S.Hum, M.Hum di undang oleh stasiun TV lokal untuk berbincang-bincang mengenai operasional Museum Negeri Bengkulu di masa pandemi. Dalam perbincangan itu salah satu trik dan inovasi Museum Negeri Bengklu untuk meningkatkan kunjungan adalah dengan melakukan lomba-lomba yang melibatkan berbagai tingkat usia seperti tingkat PAUD/TK, tingkat SD, tingkat SMP sederajat, tingkat SMA sederajat, dan Tingkat umum tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Kegiatan tersebut tentunya untuk memperkenalkan koleksi yang ada di Museum Negeri Bengkulu dan menumbuhkan kecintaan akan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Provinsi Bengkulu. Untuk diketahui, Bengkulu memiliki 9 suku antara lain suku Rejang, Lembak, Melayu Pekal, Melayu Bengkulu, Serawai, Kaur, Mukomuko, Pasemah (Basemah), dan Enggano. Setiap suku memiliki ragam budaya yang berbeda seperti bahasa, pakaian, rumah adat, tradisi, senjata, hingga makanan.

Selain itu, kepala Museum Negeri Bengkulu menjelaskan program kegiatan yang ada di museum dan beberapa inovasi yang akan dilakukan oleh museum agar semakin mudah di akses oleh masyarakat. Dengan mengunjungi museum negeri bengkulu, pengunjung akan memperoleh informasi ragam budaya tersebut. Dapat dikatakan bahwa museum merupakan miniatur budaya bengkulu jika dilihat dari koleksi-koleksi yang dimilik.

Profil Museum Negeri Bengkulu

MUSEUM NEGERI BENGKULU

Benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang sangat penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan nasional. Museum Bengkulu didirikan pada tanggal 1 April 1978, mulai berfungsi sebagai museum pada tanggal 3 Mei 1980 menempati lokasi sementara di belakang benteng Marlborough. Koleksi awal berjumlah 51 koleksi: 43 buah koleksi Etnografi, 6 buah koleksi Keramik, dan 2 buah koleksi replika. Sejak tanggal 3 Januari 1983 pindah ke lokasi baru di jalan Pembangunan No. 08 Padang Harapan Bengkulu. Berdasarkan SK Mendikbud RI No.0754/0/1987, ditingkatkan statusnya menjadi Museum Negeri Provinsi dengan klasifikasi museum umum tipe C, sebagai unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Direktorat Permuseuman Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Peresmian dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 1988 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan G.B.P.H. Poeger, Drs. dengan nama Museum Negeri Provinsi Bengkulu.

Setelah pelaksanaan otonomi daerah tahun 2001, berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bengkulu No. 14 tahun 2001 tentang Organisasi Dinas Pendidikan Nasional provinsi Bengkulu, Museum Negeri Bengkulu menjadi UPTD Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Bengkulu dengan nama Museum Bengkulu. Saat ini dengan berlakunya Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 2007, dan diterapkannya Perda No. 7 tahun 2008 Museum Bengkulu menjadi UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu.

Koleksi Museum Bengkulu meliputi benda sejarah budaya dari sembilan sub etnis penduduk asli Bengkulu dan benda sejarah budaya lain yang berhubungan dengan perkembangan Bengkulu sebagai satu komunitas budaya serta beberapa koleksi replika dan miniatur. Sampai sekarang berjumlah kurang lebih 6.151 koleksi yang terdiri dari delapan jenis koleksi dengan rincian; Biologi 46, Etnografika 2988, Arkeologika 90, Historika 42, Numismatika/Heraldika 911, Keramologika 1901, Filologika 138, Teknologika 15 koleksi yang telah dikumpulkan sejak tahun 1978.

Silahturahmi Kapolda Bengkulu Kemuseum

Silahturahmi Kapolda Bengkulu Kemuseum

Di Museum Negeri Bengkulu terdapat berbagai macam koleksi, Museum Negeri Bengkulu memiliki koleksi berupa benda-benda sejarah budaya yang berasal dari sembilan sub etnis penduduk asli Bengkulu yang terdiri atas suku Rejang, Melayu Pekal, Pasmah, Lembak, Melayu Bengkulu, Mukomuko, Kaur, Enggano dan Serawai.    

Kapolda Bengkulu Irjen. Pol. Drs. Guntur SetyantoM.Si. (lahir 28 Desember 1963) adalah seorang perwira tinggi Polri yang sejak 1 Juni 2021 menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Bengkulu. Kemarin pada hari sabtu 14 Agustus 2021 Museum Negeri Bengkulu kedatangan rombongan keluarga dari Irjen. Pol. Drs. Guntur Setyanto untuk bersilahturahmi dan mengenal budaya yang ada di Provinsi Bengkulu.

Sebagai wadah suatu lembaga yang bertugas melestarikan peninggalan-peninggalan budaya maka Museum Negeri Bengkulu memiliki jenis koleksi, antara lain kolekis senjata-senjata tradisional khususnya yang berasal dari daerah Bengkulu, selain berkunjung dan bersilahturahmi kapolda Bengkulu juga memberikan cindera mata kepada Museum Bengkulu berupa buku karangannya yang berjudul “Nilai Didaktis Keris Nusantara” yang mana diharapkan dengan sumbangan ini dapat menambah ilmu dan pengetahuan bagi kita semua.

#museumdihatiku

#museumnegeribengkulu

#dikbudprovbengkulu

#ayokemuseum

#poldabengkulu

#wanderfulbengkulu

DILARANG COPY PASTE !!!!!!